Recent Posts

Sunday, January 22, 2012

i always see.. wherever, and whenever..

Friday, January 20, 2012

Nocturno


ONE..

Aku cukup bersyukur dilahirkan sebagai ‘aku’.. hidup serba berkecukupan.. mempunyai orang-orang yang menyayangiku.. ah.. kesempurnaan itu terasa semakin bertambah saat aku diterima sebagai seorang penyiar radio di kotaku.. memang, awalnya pacarku melarangku untuk menjadi seorang penyiar, dan tentu saja dengan berbagai macam alasan yang sangat sederhana..
“nanti kamu kecapean sayang..”
“jadi penyiar itu butuh keterampilan..”
“nanti kalo dapet jam malam trus kamu gimana? Bahaya!”
“pergaulannya ga bagus sayang..” dan lain sebagainya..
tapi akhirnya ia memperbolehkan aku setelah melalui proses merayu yang sangat panjang..
“Oke.. Iya iya boleh! Tapi janji kamu jangan sampe pulang pagi! Kalopun dapet yang jam malam harus bilang aku, biar nanti pulang sama berangkatnya aku yang anter! Oke?”
“Janji sayaang..” jawabku senang
Ia tersenyum padaku, meletakkan tangannya di kepalaku, dan kemudian mangacak-acak rambutku dengan gemas. Kemudian ia memandangku, sorot mata yang dalam, namun penuh ketenangan..
“Manisnya gadisku ini..” Bisiknya lirih
Aku hanya tersenyum mendengarnya. Kembali ia memelukku. Tenggelam aku dalam lautan kasih sayangnya. Ah.. Terimakasih YaTuhan.. batinku.
“Aku sayang sama kamu..” kataku dalam pelukannya.
Kulihat ia hanya tersenyum sambil menerawang ke langit senja. Dan pada akhirnya kami-pun hanyut tenggelam dalam kelembutan matahari sore pada hari itu..

TWO..

Esoknya ia telah berjanji mengantarkan aku membeli bunga Lily putih kesukaanku. Pagi-pagi sekali ia sudah bersiap didepan rumahku dengan mengenakan kaos putih lengan panjang dipadu dengan celana jeans panjang yang tentu saja dimataku ia terlihat lebih tampan..
“Ayo berangkat sayang..” ajaknya seraya menggamit lenganku
“eh.. iya..”
hari itu aku hanya menggunakan dress selutut berwarna ungu dengan motif polkadot.. karet rambut berwarna senada yang saat itu kugunakan untuk menguncir rambutku asal-asalan pun langsung ditariknya.. aku memekik lirih saat rambutku tergerai bebas di punggungku..
“begini juga manis kok” katanya sambil memandangku. ]
Dan itu membuat emosiku yang sempat hampir keluar-pun kembali luruh. Aku tersenyum tipis sambil membuang muka.. Dasar orang ini!

Kami berhenti didepan toko bunga langgananku. Aku sudah turun duluan saat ia memarkir mobilnya di bahu jalan. Saat aku masuk kedalam toko, penjual bunga yang sudah sangat hafal denganku dan Adit langsung menyambutku..
“eh mbak.. lama nggak kesini.. apa kabar?” katanya sambil tersenyum
“iya mbak.. ini kemarin lagi sibuk soalnya, jadi baru sempet dating sekarang..” jawabku
“Cuma sendirian mbak? Pacarnya mana?”
“nggak kok mbak, itu Aditnya masih markir mobil..” ujarku sambil menunjuk ke arah seberang jalan, tempat Adit memarkir mobilnya tadi..
“Oh.. Oya, mau cari Lily lagi ya mbak?” tebaknya..
“Apalagi?” jawabku sambil tersenyum padanya
“hahaha yasudah tunggu disini dulu aja mbak, saya ambilkan  tempatnya, biar mbak bisa pilih sendiri bunganya disini..” katanya sambil berjalan ke dalam.
Tempat ini begitu rapi.. pot-pot yang berjajar didalam maupun diluar toko ditata sedemikian teratur. Aku mengenal tempat ini juga dari Adit, saat itu aku kehilangan jam tanganku disekolah.. ia mengantarku kesini untuk membelikan aku bunga anggrek. Mengingat jam itu adalah hadiah dari bundaku di ulangtahun ke-15 kemarin, wajar saja saat Adit menjemputku pulang sekolah langsung kaget karena aku tidak mau berhenti menangis.. mungkin untuk menghiburku ia membelikan aku bunga lily di toko ini.. dan aku senang menerimanya. Tetapi yang menarik perhatianku saat membeli anggrek itu adalah bunga Lily putih yang dipajang di dalam vas mungil di ujung meja kasir. Sejak itulah aku mulai menyukai Lily putih..
Lamunanku terhenti saat Adit yang tiba-tiba berdiri disebelahku langsung menepuk bahuku
“Git, kamu tau Lily putih itu nyimbolin apa?” tanyanya
“Apaan emang? Gatau deh..”
“Ah kamu! Gini deh aku kasihtau, dulu katanya ada sepasang suami istri, tapi mereka ga punya anak.. tinggalnya juga di pedesaan gitu.. nah si-istrinya ini ternyata udah sakit keras selama bertahun-tahun, tapi nggamau kasihtau suaminya, trus di ulangtahun pernikahan mereka ke 20, si-suami ini mau kasih hadiah lily putih buat istrinya, pagi-pagi waktu istrinya masih tidur, diem-diem si-suami keluar nyari lily putih.. suami baru kembali kerumah pas iang-siang sambil bawa lily putih 3 tangkai.. waktu dikamar, si-suami liat istrinya lagi tidur.. akhirnya lily nya itu ditaruh di samping istrinya.. eh, udah hampir malem kok si-istri ga bangun-bangun.. suaminya udah mulai mikir yang nggak enak, waktu diliat ke kamar istrinya ternyata istrinya itu udah meninggal, jenazahnya udah kaku.. tapi yang bikin suaminya kaget itu ternyata bunga lily yang ditaruh di samping istrinya tadi itu udah di genggam di tangan istrinya.. setelah diotopsi sama dokter yang deket dari desa itu, si-istri meninggalnya udah dari pagi banget.. nah lo.. ga kaget gimana gitu suaminya! Sejak saat itu, orang-orang sekitar nganggep bunga lily utih sebagai simbor rasa sayang kita buat orang yang udah gaada..”
“hah?! Trus kalo aku juga suka sama lily putih gimana dong?”
“mana aku tau! Tanya ajadeh sama si-istri!”
“hush! Apaan sih?! Ga lucu ah!”
Tiba-tiba si-mbak-penjaga-toko itu –yang sudah daritadi berdiri sambil membawa baskom berisi belasan tangkai lily putih- langsung mengambil suara.. membuat aku dan Adit tersentak
“Tapi bener kok mbak, kalo katanya bunga lily putih itu buat nunjukin rasa sayang kita ke orang yang udah nggak ada..”
wah wah wah.. rupanya ada yang menguping pembicaraan yaa.. batinku..
“ah, sudah sudah! Ngomongnya jadi ngelantur gini kan! Ayo deh Dit bantuin aku milih ini bunga!”
Adit langsung berjongkok sambil membantuku memilih-milih bunga dalam baskom itu..
Bagimana bisa? Padahal bunga ini begitu cantik.. padahal aku begitu mengagumi keindahan bunga ini.. padahal.. rencananya aku akan memberikan beberapa tangkai bunga lily ini pada Adit di peringatan 2 tahun jadian kami nanti.. Batinku murung.. 
“Git.. Gita.. Kok ngelamun sih sayang?”
“eh.. nggak kok.. apa? Ada apa?”
“kamu kenapa sih? Ini mau beli berapa tangkai?”
“20 aja deh..”
“yaudah.. nih aku udah ada 15, tambah aja sama bunga yang kamu pilih”
“nih..” kataku sambil menyodorka 5 tangkai bunga yang sudah kupilih tadi..
Ia menerimanya dan menyerahkan pada penjaga toko yang sepertinya mengawasi kami sedari tadi.. Mbak-mbak itu lalu segera membungkus bunga lily tadi dan adit langsung menyodorkan uang pada mbak mbak itu..
“Ayo Gita.. mau sampe kapan kamu jongkok disini terus?”
Adit langsung menggandeng tangaknu keluar dari toko itu, tak lupa ia mengucapkan terimakasih pada penjaga toko.
“makan dulu yah Git.. kamu kan belum makan..” katanya saat kami sudah berada di mobil
“langsung pulang aja Dit.. kepalaku agak sakit..” kataku berbohong
Ia hanya menatapku, dan tanpa mengatakan apa-apa lagi, langsung tancap gas menuju rumahku..

THREE

Setelah 3 hari sejak kejadian di toko bunga itu, aku selalu gelisah.. tetapi tidak untuk hari ini.. yap, hari pertamaku masuk kerja sebagai seorang penyiar! Dan sialnya, hari pertamaku itu justru tepat pada jam malam.. otomatis hari itu Adit menjemputku. Tepat jam 18.30 ia sampai dirumahku.. Entah hanya perasaanku saja atau apa, tetapi sungguh! Malam itu ada yang aneh.. tidak seperti biasanya.. sorot matanya.. cara bicaranya.. ada apa ini?
“gita.. ayo berangkat! Kamu masuk jam 7 kan?”
“eh.. iya..”
Di mobil, Adit hanya diam.. dan sepertinya ia gelisah..
“kamu kenapa sayang?” tanyaku hati-hati
“ah.. eh.. nggak kok.. nggak ada apa-apa..”
“sungguh?” tanyaku tidak percaya
“iyaa.. bener kok! Oya, nanti kamu selesai jam berapa yang?”
“jam 11 mungkin..”
“nanti aku jemput naik motor yah.. “
“iya.. nggakpapa.. nggak di jemput juga nggakpapa kok..”
“nggak! Nggak boleh! Pokoknya harus pulang sama aku!”
“idih.. aku juga ga bakal diculik tau ga sih?!”
“diculik nggak, diperkosa iya! Mau kamu?
“loh.. kok malah doain aku diperkosa sih?! Ya gamau laah! Enak aja!”
“makanya kalo gamau itu nurut cereweeeet !! pokonya nanti nggak boleh pulang kalo nggak aku jemput titik!”
“iya baweel!”
sesampainya di tempat siaran, aku sudah beranjak akan turun tetapi tiba-tiba ia menarik lenganku
“Gita.. Denger ya, kalo aku nanti terlambat jemput kamu, jangan kemana-mana! Tunggu disini sampe aku dateng! Ngerti?”
“iya sayang! Iyaa!”
kemudian aku segera turun dari mobil dan berjalan masuk kedalam lobby.. kulihat dit langsung menjalankan mobilnya pulang..

FOUR

Salah satu yang menarik perhatianku menjadi penyiar adalah saat program curhat malam, yaitu saat para penelpon boleh curhat dan me-request lagu. Dan betapa gembiranya aku karena sekarang aku kebagian jatah untuk itu !! kuamati para penyiar dan beberapa pegawai disana ramah-ramah padaku..
“penyiar baru ya?”
“wah.. ada lagi penyiar cantik!”
“hai.. salam kenal!” dan respon-respon lain yang kuterima saat aku memasuki studio..
“sebentar lagi On-Air mbak.. siap-siap yaa..” kata salah satu penyiar cewek disana..
“oh.. iya mbak.. makasih..”
“ardisa..” katanya sambil mengulurkan tangannya padaku.
“Gita mbak..” balasku
dan.. siaran-pun dimulai! Aku memulainya dengan baik, dan mendapat pujian dari para penyiar senior.. saat aku menunggu penelpon selanjutnya, telepon itu kembali berbunyi..
“halo.. dengan siapa dimana?”
“hai mbak penyiar yang cantik!” kata suara di seberang sana
“hahaha.. terimakasih yaa.. siapa ini?” tanyaku menggoda. Padahal sudah jelas-jelas aku tahu siapa penelponnya, suara ini.. logat ini.. siapa lagi kalau bukan..
“saya Aditya Revanda..” BENAR SAJA ! ah, ada-ada saja dia ini!
“oke, mas Aditya Revanda.. ada yang perlu diceritakan?”
“Hm.. begini mbak, saya hanya butuh saran.. sebentar lagi saya akan mejemput pacar saya dari tempat kerja.. tapi saya bingung harus membawakan dia apa..”
“wah.. lelaki yang penuh pengertian! Haha bawakan saja dia bunga!”
“bunga?”
“tentu saja! Bagaimana kalau.. lily putih?” sekejap aku tersentak dengan apa yang aku ucapkan..lily.. pu..tih? entah mengapa aku merasa aliran darahku mengalir lebih cepat. Seperti ada sesuatu.. seperti.. entahlah!
“wah.. not bad! Baiklah.. terimakasih yaa..”
Tuut..tuut..tuut..
Mati..

FIVE..

Sudah pukul 23.00.. aku mengakhiri siaranku dengan saangat mulus.. setelah berpamitan dengan pegawai-pegawai dan para penyiar yang lain, aku segera bergegas keluar gedung. Berharap Adit sudah menungguku diluar. Tapi jangankan Adit, satpam gedung-pun juga menghilang entah kemana.. kuputuskan untuk menunggunya saja, pasti ia sekarang sedang di jalan. Tak perlu menelpon, toh nanti akan membahayakan dijalan.. apalagi ia sedang mengendarai motor.. namun lama aku menunggu, ia tak juga terlihat.. yatuhan kemana saja sih dia ini?! Sudah hampir jam 12 malam!! Karena sudah tidak sabar lagi, kuraih handphone ku untuk menelpon Adit.. tidak ada jawaban.. kucoba lagi.. tetap saja nihil! Ah, aku pulang sendiri sajalah! Aku sudah lelah sekali hari ini.. akhirnya kuputuskan untuk menelpon taksi. Maafkan aku sayang.. batinku. 
Saat taksi sudah berjalan, kira-kira 200 meter dari tempatku bekerja, kulihat ada beberapa orang berkerumun di bahu kanan jalan.
“mungkin ada kecelakaan mbak..” kata sang sopir
aku ingin turun dan melihat, tapi perasaan lelahku lebih dominan daripada rasa penasaran..yasudahlah.. toh, aku tidak kenal!
Sesampainya dirumah, aku langsung ganti pakaian dan sekali lagi Kucoba untuk menghubungi Adit.. tidak ada jawaban..

SIX

Esok paginya, aku mencoba menghubunginya, tapi tetap sama.. tidak ada jawaban.. aku galau.. aku bingung.. kuputuskan untuk mendatangi rumahnya.. kuminta sopir mengantarku kesana.. dijalan, perasaanku tidak tenang.. aku takut.. padahala kau sendiri tidak mengerti, apa yang aku takutkan sebenarnya?
Sesampainya dirumah Adit, kulihat banyak sekali orang disana..
Ada apa ini?
Aku langsung turun dari mobil dan berlari kedalam rumah Adit.. saat aku sudah berada diruang tamu aku kaget, lututku lemas..
“Gita..” Mama Adit menghampiriku.. Ia menangis! YaTuhan Ia menangis!
“tante.. Adit mana?” tanyaku parau
“Adit.. Gita, sabar yaa..” ucapnya sambil terus menangis sesenggukan
“tante bohong sama Gita kan? Iya kan?” aku mulai kacau. Sangat kacau!
Tapi mama Adit hanya diam dan terus menangis.. Bohong! Ini bohong! Tidak mungkin!! Kulihat Adit ada disana, aku ingin berlari memeluknya, tapi tidak! Ia tidak berdiri dengan senyuman mautnya! Ia tidak berdiri sambil membuka lengannya lebar-lebar dan kemudian meminjamkan pundaknya saat aku menangis seperti biasa! Ia tidur! Adit tidur diselimuti kain batik dan dikelilingi orang-orang yang mendoakannya!! Matanya terpejam!
Gelap…

“Gita.. bangun sayang..”
kepalaku pening.. sangat pening dan terasa berat sekali.. aku mencoba untuk membuka mataku,mama Adit? Sedang apa di.. ah Adit!! Bohong! Aku hanya bermimpi!
“tante..”
“yang sabar ya sayang.. kita semua kehilangan dia..”
“kenapa tante? Kenapa?” aku menangis.. nelangsa..
“tadi malam sayang, ia berniat menjemputmu.. tapi sebelumnya ia bilang ke tante kalau mau beli bunga dulu.. tapi didekat tempat siaranmu, ada motor yang ugal-ugalan melaju dengan kecepatan tinggi tepat didepan Adit, ia membanting setir dan menabrak trotoar.. sedangkan para warga sekitar tidak langsung membawanya kerumah sakit.. ia meninggal kehabisan darah karena pendarahan di kepalanya.. padahal kalau saja para warga langsung bertindak cepat, nyawanya masih bisa ditolong..”
“apa?!” aku tercekat mendengarnya..
tadi malam.. taksi.. kerumunan orang.. adit! Bohong! Ini bohong! Yatuhan.. kalau saja tadi malam aku turun! Kalau saja aku segera melarikan Adit ke rumah sakit! Kalau saja..

SEVEN

Sudah 3 hari berlalu sejak kematian Adit.. dan sudah 3 hari pula aku mengambil cuti pertamaku.. tak pantas rasanya.. baru sehari aku bekerja langsung minta cuti.. untung saja manajernya mengerti kondisiku..
hari ini, aku berniat mangunjungi lagi pusara Adit.. saat aku sampai diatas nisannya, aku menangis lagi.. tertulis disana..”Aditya Revanda Putra”
“sayang.. aku kangen.. aku pingin ketemu sama kamu.. ayo kita jalan-jalan lagi.. ayo kita beli bunga lagi.. ayo kita beli ice cream lagi.. ayo kita main balon lagi.. ayo kita hujan-hujan lagi.. ayo pulang sayang.. ayo.. aku janji kalo kamu pulang, aku bakal jadi anak baik, nggak cengeng, nggak manja, mau nurut sama kamu.. ayo sayang.. ayo pulang..” aku terisak.. suaraku parau..
langit-pun menangis.. hujan..


karena aku tak ingin lama-lama larut dalam kesedihan, kuputuskan untuk masuk kerja lagi. Beberapa penyiar menunjukkan simpati padaku saat bertemu di lobby depan.
“sabar ya Git..”
“jangan sedih terus mbak.. nggak baik..”
“Dia sudah tenang disana mbak Gita..”
aku hanya menunjukkan senyum tipis dan anggukan.. aku berjalan menuju ruanganku. Tapi lututku lemas seketika saat aku melihat ke meja kerjaku. Ini.. tidak.. mungkin! Bagaimana tidak terkejut? Setelah Adit meninggal sembari membawa beberapa tangkai bunga Lily untuk menjemputku, dan tentu saja ia tidak sempat MENARUH BUNGA-BUNGA ITU DIMEJAKU! Ya.. bunga itu ADA DI MEJAKU! SEKARANG!! Aku tercekat saat kuraih secarik kertas yang terselip diantaranya..
“maaf sayang.. aku terlambat..”